Target Tuntas Online : Sejarah
Breaking News :

TARGET TUNTAS BERITA TERKINI

Senin, 11 Februari 2013

Belajar dari Nilai Juang We Imaniratu Raja Bone Ke-25

Pengantar

                Dalam lembaran sejarah Kerajaan Bone ditemukan banyak catatan yang memperlihatkan keberagaman sikap raja-raja yang memerintah di kerajaan tersebut. Sikap yang bernilai kejuangan baik dalam upaya mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan negerinya dari serangan musuh, maupun dalam tata cara pelaksanaan system pemerintahannya.
                Interpretasi kesejarahan tentang Kerajaan Bone memang telah dilakukan oleh banyak pihak berupa rekaman masa silam melalui berbagai tulisan dan pemaparan. Namun sejumlah keterangan baik dalam lontarak maupun cerita lisan terasa masih sangat kurang, bahkan banyak yang sulit untuk dipahami dan hanya dapat dipandang sebagai mitologi belaka. Oleh karena itu penggalian data dan fakta sejarah selanjutnya dibutuhkan untuk menemukan mata rantai sejarah yang hilang utamanya pasa masa kedatangan bangsa asing dari Eropah (Inggris dan Belanda) dengan maksud penjajahannya.
                Tulisan singkat yang mengangkat sedikit tentang We Maniratu Arung Data Raja Bone-XXV (1823-1835) ini, pada dasarnya merupakan penelusuran eksistensi kejatidirian masyarakat Bone dimasa lampau. Data yang sedikit ini diharapkan dapat member konstribusi sejarah local (kerajaan Bone) yang berhubungan dengan tema “ Penggalian nilai-nilai Kepahlawanan We Maniratu Arung Data Raja Bone-XXV “ sebagai mana yang diinginkan dalam seminar kearsipan ini.
                Walaupun harus diakui bahwa materidatadan fakta tang diketengahkan dalam tulisan ini masih sangat kurang bahkan mungkin tidak terlalu penting, namun penulis berharap semoga dianalisis oleh peserta seminar. Artinya, apa yang diketengahkan oleh penulis setidaknya dapat menjadi sekedar “ tanda baca “ dari untaian kalimat sejarah-sejarah Kerajaan Bone yang panjang dan berliku-liku.
                Penuturan sejimlah rentetan peristiwa dalam rangka upaya mengungkapkan data dan fakta sejarah Kerajaan Bone, terutama pada masa kedatangan bangsa asing dengan maksud penjajahannya, memang sangat penting untuk dilakukan. Karena data dan fakta sejarah tersebut, tidak hanya memberikan dan mengungkapkan keterangan-keterangan yang objektif berhubungan sikap dasar orang Bugis yang dikenal dengan “ sirik dan pesse’ “
Tetapi juga tentang nilai-nilai kejuangan yang dilakukan oleh seorang raja dalam mempertahannkan kemerdekaan dan kedaulatan wilayah kekuasaannya.
                We Maniratu Arung Data merupakan salah satu dari enam raja perempuan yang pernah memerintah di Kerajaan Bone, Yaitu ; 1. We Banrigau Makkalempie Mallajange’ ri Cina Raja Bone-IV (1496-1516), 2. We Tenri Pattuppu Raja Bone-X (1602-1611), 3. Batari Toja Daeng Talaga Raja Bone-XVII (1714-1715), kemudian terpilih lagi sebagai Raja Bone-XXI (1724-1749)  4. We Maniratu Arung Data Raja Bone-XXV (1823-1835), 5. Pancaittana Besse Kajuara Raja Bone-XXVIII (1857-1860), dan 6. Fatimah Banri Raja Bone-XXX (1871-1895).
                Atas mufakat dari anggota Dewan Adek Pitu Kerajaan Bone dalam tahun 1823, We Maniratu Arung Data diangkat menjadi Raja Bone-XXV menggantikan saudaranya yaitu To Appatunru Matinroe’ ri Ajabbenteng Raja Bone-XXIV (1812-1823). Pada masa pemerintahannya, We Maniratu Arung Data dikenal sebagai raja yang paling anti penjajahan Belanda.

Sedikit Tentang Namanya
                Untuk lebih mengenal seseorang perlu ada upaya untuk mengorek lebih jauh tentang nama, gelar, dan atribut lain yang melekat pada dirinya. Bahkan lebih dari itu, perlu pula ditelusuri tentang asal-usulnya, nama kedua orang tuanya, tempat dan waktu kelahirannya. Seperti halnya Raja Bone-XXV yang memerintah dari tahun 1823-1835, kelihatannya ada beberapa versi tentang namanya yanh dituliskan oleh sejumlah penulis sejarah Sulawesi Selatan.
                Dari berbagai catatan ditemukan beberapa nama Raja Bone-XXV yang digelar Matonroe ri Kessi (Yang wafat di Kessi), dimana sejumlah penulis sejarah mencatatnya, antara lain ;
1.         Abdurazak Daeng Patunru, dkk. Dalam “sejarah Bone “ yang diterbitkan oleh Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan, Tahun 1989,menuliskan nama Raja Bone-XXV (1823-1835) adalah I Benni Arung Data Matinroe ri Kessi.
Catatan ; menurut berbagai sumber dari tokoh masyarakat setempat mengatakan bahwa nama I Benni Arung Data, ditemukan pada catatan-catatan Belanda yang berusaha untuk menguasai Bone pada masa pemerintahan Raja Bone-XXV tersebut. Kalau keterangan ini benar, maka kemungkinan nama I Benni Arung Data hanyalah mengikuti ucapan Belanda yang tidak terlalu pasih dalam menyebut We Maniratu Arung Data. Tentang hal ini, mungkin perlu untuk dilakukan penggalian dan penelusuran yang lebih mendalam.
2.       Dalam lontarak Akkarungeng Bone yang diterbitkan dengan biaya pemerintah Daerah Tkt. I Sulawesi Selatan Tahun 1985, tertulis nama Arungpone ke 25, adalah We Manneng Arung Data.
3.       Dalam buku Bone Selayang Pandang yang ditulis oleh Andi Muhammad Ali (1986) menyebut nama Arungpone-XXV adalah I Mani Arung Data.
4.        Dalam buku Arus Perjuangan di Sulawesi Selatan, tahun 1989 yang ditulis oleh Drs. Sarita Pawiloi, menyebutkan nama Raja Bone-XXV (1823-1835), adalah I Maning Arung Data.
5.       Dalam naskah sejarah Bone yang ditulis oleh Andi Palloge Petta Nabba (tanpa tahun) menyebutkan nama Raja Bone-XXV (1823-1835), adalah I Maniratu Arung Data digelar Sultanah Rajituddin Matinroe’ ri Kessi.
6.       Sedangkan dalam Surek Bilang (catatan harian) La Tenri Tappu To Appaliweng Matinroe’ ri Rompegading Raja Bone-XXV (1775-1812) yang tidak lain adalah ayah kandung Raja Bone-XXV, diketahui bahwa anak perempuannya itu bernama We Maniratu. Pada saat Riulok’sulolona (acara tradisional atas kelahiran seorang anak) dihadiahkan akkarungeng (wilayah kekuasaan) yaitu “Data”. Menurut sejumlah tokoh masyarakat, tempat itu berada dalam wilayah Lalebbata (Ibukota Kerajaan Bone). Dengan demikian anak perempuannya itu bernama lengkap We Maniratu Arung Data.
Tentang tempat yang bernama “Data” sampai saat sekarang juga masih menjadi kontraversi, sebab ada yang berpendapat bahwa Data berada dibagian selatan Kerajaan Bone.
Dalam Surek bilang La Tenri Tappu To Appaliweng tersebut diketahui bahwa We Maniratu Arung Data lahir pada tanggal 14 Oktober 1776, seperti bunyi catatan;
“14 Oktober 1776, purai 10 garagatae’ najaji anakna Puanna Batara Tungke-Makkunrai Anakna-Alhamdu lillah” artinya; 14 oktober 1776, sesudah pukul sepuluh malam- lahirlah anak Puanna Batari Tungke- Perempuan anaknya- Alhamdu lillah”.
“Upakuruk sumangek- I Puanna Batara Tungke se’ddi je’mma- anakna uwa’re’ng inungeng butung- karawik ulaweng” artinya; saya bangkitkan semangat Puanna Batara Tungkedengan memberinya orang satu- anaknya saya beri gelas minum butung- karawak emas”.
Selanjutnya pada tanggal 23 Desember 1776, La Tenri Tappu To Appaliweng kembali menulis catatan :
“Utudattudang ri Salassae’ mitaitai We Maniratu” artinya; saya duduk-duduk di selassae’ menemui We Maniratu”
Menurut Surek Bilang tersebut, Batara Tungke Arung Timurung adalah anak pertama La Tenri Tappu To Appaliweng dengan istrinya We Padauleng atau We Tenri Pada, yang lahir pada tanggal 12 April 1775, We Maniratu Arung Data Raja Bone-XXV (1823-1835) adalah anak ke-2 yang lahir pada tanggal 14 Oktober 1776. Sedangkan La Mappasessu To Appatunru Arung Palakka Raja Bone-XXIV (1812-1823) adalah anak ke-3 yang lahir pada tanggal 12 Mei 1791.
Dalam Lontarak Akkarungeng Bone diketahui bahwa La Tenri Tappu To Appaliweng dengan isterinya We Tenri Pada melahirkan 13 orang anak, yaitu; 1. Batara Tungke Arung Timurung, 2. We Maniratu Arung Data, 3. La Mappasessu To Appatunru Arung Palakka, 4. La Mappaseling Arung Panynyili, 5. La Tenri Sukki Arung Kajuara, 6. We Kalaru Arung Pallengoreng, 7. La Tenri Bali Arung Ta’, 8. La Mappaewa Arung Lompu, 9. La PAremma Rukka Arung Karella, 10. La Temmu Page Arung Paroto, 11. La PAttuppu Batu Arung Tonra, 12. La Pawawoi Arung Timurung, dan 13. I Mamuncaragi.
Mungkin banyak yang berpendapat bahwa apalah apalah arti sebuah nama untuk dipermasalahkan, namun menurut heman penulis “nama” adalah identitas yang paling melekat pada diri seseorang sekaligus membuatnya abadi dalam lembaran sejarah kehidupannya. Apalagi nama seorang Raja seperti We Maniratu Arung Data Raja Bone-XXV yang pada masa hidupnya memiliki banyak aktivitas yang berorientasi kepada kemaslahatan negeri dan bangsanya dalam menghadapi penjajah Belanda.
Oleh karena itu, melalui tulisan yang singkat ini, penulis mengajak kepada pemerhati  sejarah local untuk membuat kesepakatan bahsa siapa sesungguhnya nama Arungpone ke-25 yang memerintah dari tahun 1823-1835 itu. Hal ini dimaksudkan agar generasi kita yang akan dating tidak terjebak dalam suatu pemahaman yang berbeda-beda mengenai nama raja wanita yang terkenal keberaniannya dalam melawan Belanda tersebut.

Siapa itu We Maniratu Arung Data ?
Sebelum mengungkap lebih jauh tentang kisah-kisah heroiknya dalam mempertahankan Kerajaan Bone dari serbuan tentara Belanda pada masa pemerintahannya sebagai Raja Bone-XXV (1823-1835), ada baiknya menelusuri sedikit tentang siapa sesungguhynya We Maniratu Arung Data itu.
Baginda adalah anak ke-2 dari La Tenri Tappu To Appaliweng Matinroe’ ri Rompegading Raja Bone-XXIII (1775-1812) dengan isterinya We Pada Uleng atau We Tenri Pada Arung Timurung. Dalam lontarak Akkarungeng Bone diketahui bahwa La Tenri Tappu To Appaliweng adalah anak dari We Hamidah Arung Takalarak yang juga dikenal dengan gelar Petta Matowae’ dengan isterinya La Mappapenning Daeng Makkuling sepupu satukalinya yang bernama We Padauleng atau We Tenri Pada, anak dari saudara laki-laki We Hamidah Arung Takalarak, yaitu La Baloso To Akkaottong Ponggawa Bone dengan isterinya Arung Lompeng. Dari perkawinan tersebut, melahirkan 13 orang anak diantaranya adalah We Maniratu Arung Data yang kemudian menjadi Raja Bone-XXV (1823-1835).
La Tenri Tappu To Appaliweng dan We Mahidah Arung Takalarak adalah anak La Temmassonge To Appaweling Raja Bone-XXII Matinroe ri Malimongeng (1749-1775) dengan isterinyan We Mommo Sitti Aisyah yaitu cucu Syekh Yusuf (Tuanta Salamaka ri Gowa). Sedangkan La Temmassonge To Appaweling adalah anak dari La Patau Matanna Tikka Matinrore’ri Nahauleng Raja Bone-XVI (1696-1714) denganisterinya We Sundari Datu Baringeng (Soppeng).
Dari Surek Bilang (catatan harian) La Tenri Tappu To Appaliweng diketahui bahwa We Maniratu Arung Data lahir pada tanggal 14 Oktober 1776 di Lalebata (Watampone). Pada waktu itu La Tenri Tappu To Appaliweng baru satu tahun memangku jabatan sebagai Arumpone (Raja Bone).
Cerita lisan yang terdapat dalam masyarakat Bone mengatakan bahwa sejak kecil We Maniratu telah memperlihatkan sikap pemberani yang melebihi sikap laki-laki. Walaupun dia seorang anak perempuan, tetapi keberaniannya senantiasa terlihat terutama dalam membela teman-temannya yang mendapat masalah dengan orang lain, termasuk dalam hal mempertahankan pendapat yang dianggapnya beanar. Keberaniannya dalam mempertahannkan hak-hak yang dianggapnya benar semakin Nampak ketika diangkat oleh Dewan Adek Pitu Kerajaan Bone menjadi Arumpone (Raja Bone)-XXV pada tahun 1823. Pengankatannya itu adalah untuk menggantikan saudaranya yaitu To Appatunru Palakka Raja Bone-XXIV yang juga dikenal sebagai raja yang sangat anti penjajahan.
Misalnya saja pada masa pemerintahannya We Maniratu Arung Data dikenal sebagai pelopor bagi sebagian raja-raja di Sulawesi Selatan dalam menolak pembaharuan perjanjian Bungaya (18 November 1667) yang dikehendaki Oleh Belanda setelah memenangkan Perang Eropah dengan mengalahkan Inggris. Sebagai akibat pembangkangan Raja Bone We Mani itu, maka pada tanggal 14 Maret 1824, Kerajaan Bone di bawah kepemimpinan We Mani diserang oleh pasukan Belanda yang dipimpin oleh jenderal Van Goen melalui Pantai Bajoe (Andi Muh. Ali, 1986 ; 60).
Kekuatan militer Belanda di Sulawesi Selatan di bawah pimpinan Jenderal Van Goen, memang kelihatan kewalahan untuk menhadapi perlawanan raja-raja yang menolak untuk menjalin kerja sama , terutama Raja Bone yang dengan tegas menyatakan tidak mau kerja sama dengan pihak Belanda.
Kedatangan bangsa asing dari Eropah (Inggris dan Belanda) di Sulawesi Selatan dimulai kembali pada tahun 1814. Ketika itu bangsa Inggris menggantikan Belanda menjajah Nusantara sejak tahun 1811. Pada akhir tahun 1811, Inggris menduduki Makassar. Residen bangsa Inggris yang bernama Philips berkeinginan mengatur segala sesuatunya baik pemerintahan maupun perdagangan dan lain-lain sesuai dengan kemauannya semata. Tetapi maksud tersebut ditolak oleh Raja Bone To Mappatunru Arung Palakka yang merupakan saudara kandung We Maniratu Arung Data. Raja ini cukup keras dan anti penjajahan asing.
Setiap rencana penguasa Inggris ditolaknya dengan tegas, akhirnya pada tanggal 2 Juni 1814 penguasa Inggris mengirim pasukan ke Bone dibawah pimpinan Jenderal Mayor Nightingale untuk menyerang dan melumpuhkan pertahanan Raja Bone To Appatunru. Karena kalah kuat, maka pasukan Bone mundur kearah Maros dan tetap melakukan perlawanan dengan taktik perang gerilya. Dengan demikian, pasukan Inggris berhasil menduduki kota Watampone. Tetapi pasukan Inggris tidak menetap di kota Watampone dan kembali ke Makassar. Hal ini membuat pasukan Bone lebih bebas mengatur perlawanan yang dibantu oleh pasukan Maros dan kerajaan lainnya.
Pada tahun 1816 berdasarkan Comvention London, Belanda mengambil alih kekuasaan tersebut dari Inggris. Di Makassar penyerahan kekuasaan tersebut berlangsung pada bulan Oktober 1818. Selanjutnya pada tahun 1824 Gubernur Jenderal Van der Capellen datang ke Makassar. Ia sangat khawatir dengan berkobarnya perlawanan yang makin hebat dari kalangan raja-raja di Selawesi Selatan. Untuk itu diundanglah raja-raja di Sulawesi Selatan ke Makassar guna diajak kerja sama. Sejumlah raja memang bersedia hadir untuk menanda tangani perjanjian Ujung Pandang yang merupakan pembaharuan dari Perjanjian Bungaya. Akan tetapi raja Bone, Luwu, Wajo, Soppeng, Suppa dan raja-raja Mandar tidak hadir.
Diantara raja-raja yang tidak mau menjalin kerja sama dengan belanda adalah Raja Bone yang pada waktu itu telah dijabat oleh We Maniratu Arung Data Matinroe’ ri Kessi. Raja perempuan ini adalah saudara dari Raja Bone-XXIV To Appatunru Arung Palakka yang kelihatannya lebih anti penjajahan asing. We Maniratu Arung Data lebih tegas menyatakan penolakannya untuk kerja sama dengan pihak penjajah.
Menurut sumber-sumber lisan, untuk memperkuat pasukannya We Maniratu Arung Data membentuk pasukan wanita yang dilengkapi dengan senjata lawida (semacam alat tenun yang runcing). Disamping itu, semakin ditingkatkan pula jumlah pasukan laki-laki yang ditempatkan diberbagai  titik pertahanan. Lalu dengan jjiwa kesatria We Maniratu Arung Data bersama pasukan wanitanya terjun langsung ke medan perang untuk menghadapi musuh.
Melihat kekuatan pasukan Bone dan Rajanya yang sangat anti penjajahan, membuat belanda sangat khawatir. Apalagi setelah diketahui bahwa Raja Bone mengadakan kerjasama dengan kerajaan tetangganya seperti Maros, Sinjai, Pangkajenne, Soppeng, Wajo, Luwu dan lain-lain. Oleh karena itu, colonel van Schelle selaku pimpinan Belanda di Makassar terpaksa meminta bantuan tambahan pasukan dan persenjataan dari Batavia. Untuk itu, dikirimlah dari Batavia pasukan di bawah pimpinan Kolonel Bischoff dan bertugas untuk merebut kembali Maros, Pangkajenne, dan Sigeri dari kekuasaan pasukan Bone yang telah lama mendudukinya.
Kemudian pada akhir tahun 1824 Jenderal Mayor J.J.Van Geen datang pula dari Batavia dengan tugas ekspedisi yang teerdiri dari pasukan infanteri, kavaleri, artileri, dan angkatan laut yang dipimpin Kapten Terzee Piterzen. We Maniratu Arung Data selaku Raja Bone memang telah menyusun suatu strategi dan persiapan yang cukup matang untuk menghadapi ekpedisi Jenderal Mayor Van Geen tersebut. Raja wanita yang berhati baja itu tidak henti-hentinya membakar semangat pasukan Bone untuk melawan pasukan penjajah Belanda. “ Jangan biarkan penjajah Belanda itu menginjakkan kakinya di Tana Bone “ demikian kalimat-kalimat yang selalu diserukan oleh We Maniratu Arung Data kepada pasukan Bone yang sedang berada di medan perang.
Menurut cerita lisan yang terdapat dalam masyarakat Bone diketahui bahwa We Maniratu Arung Data adalah seorang wanita yang keberaniannya melebihi keberanian sebahagian laki-laki. Hal ini Nampak pada saat memimpin pertempuran melawan Belanda di berbagai tempat. Masih menurut cerita lisan tersebut mengatakan bahwa We Maniratu Arung Data kemanapun ia pergi selalu membekali diri dengan keris dipinggang, walaupun ia tetap dijaga oleh pasukan kerajaan Bone.
Untuk memasuki wilayah kerajaan Bone, pasukan Belanda terlebih dahulu harus berhadapan dengan pasukan Maros, Bantaeng, Bulukumba dan Sinjai. Oleh karena itu ekpedisi van Geen baru bias menembus pertahanan pasukan Bone di Bajoe pada tanggal 24 Maret 1825, setelah membumi hanguskan Sinjai pada tanggal 19 Maret 1825.
Kenyataan tersebut menandakan bahwa Raja Bone We Maniratu Arung Data mendapat dukungan kuat dari raja-raja tetangganya dalam melawan penjajah Belanda. Setelah pesisir selatan, seperti Bulukumba dan Bantaeng di bersihkan oleh tentara Belanda dibawah pimpinan Mayor Lobron de Vosela, melanjutkan perjalanan ke Kajang dan Sinjai dengan maksud bertemu dengan induk pasukan yang akan memasuki Bone (Abdurrazak Daeng Patunru, 1989 ; 247)
Kerajaan Bone dibawah kepemimpinan We Maniratu Arung Data melawan Belanda hingga akhir tahun 1835 yaotu setelah We Maniratu Arung Data wafat dan digantikan oleh saudaranya La Mappaseling Arung Panynyili sebagai Raja Bone-XXVI.
Dalam lontarak akkarungen Bone disebutkan bahwa We Maniratu Arung Data wafat pada tahun 1835 di Kessi pada usia 59 tahun. Menurut berbagai sumber mengatakan bahwa tempat yang bernama Kessi itu berada dalam Lalebbata (Ibukota Kerajaan Bone).
Namun sampai hari ini belum ditemukan bukti akan keberadaan tempat tersubut, sehingga masih menjadi kontraversi dikalangan pemerhati sejarah local. Karena sebagian pula yang mengatakan bahwa Kessi berada dibagian selatan Kerajaan Bone. Mungkin perbedaan seperti itu perlu dilakukan penelusuran yang lebih jauh untuk menentukan tempat yang bernama Kessi dimana We Maniratu wafat. Dikatakan pula bahwa We Maniratu Arung Data selama hidupnya tidak pernah menikah, sehingga tidak memiliki keturunan langsung.
Inilah sedikit data dan fakta sejarah tentang We Maniratu Arung Data Raja Bone-XXV (1823-1835) yang sempat penulis persembahkan pada seminar kearsipan ini. “Alai se’dde’e’ nare’kko engkai mappe’de’ce’ng – sampe’yangngi mae’gae’ nare’kko engkai makkasolang” (ambillah yang sedikit kalau dapat berguna – tolaklah yang banyakl kalau bakal menyiltkan).
Begitulah harapan penulis dalam memaparkan data dan fakta yang singkat ini kepada peserta seminar kearsipan ini. Lebih kurangnya mohon dimaafkan. “Laoni mai’ siatting lima – siola tonra – tassibelle’yang” (marilah saling bergandeng tangan – menuju kearah yang satu – dan tidak saling menghianati). (Teluk Bone)

Bendera Pusaka Kerajaan Bone

Bendera Persekutuan VOC dengan Bone
Kerajaan  Bone didirikan  Tahun 1330, ketika serikat antara tujuh negara kuno  yakni Ujung, Tibojong, Ta, Tanete Riattang, Tanete Riawang, Ponceng, dan Macege dilakukan  oleh Mata Selompu.  Beliau  diundang oleh dewan penasihat dari tujuh penguasa menjadi penguasa tertinggi pertama dari federasi  ketujuh  kerajaan  yang  menggabungkan diri menjadi kerajaan Bone.  Pada tahun 1582  Bone, Soppeng,  dan  Wajo, mendirikan aliansi TallumpoccoE  yang mendominasi wilayah tersebut selama beberapa dekade. Islam menjadi agama negara pada  1608 ketika Arumpone dikonversi dan mengadopsi raja-raja  menjadi Sultan.  Seperti Arung Palakka yang digelar Sultan Saaduddin.
Selama abad  ke babak  berikutnya Negara Bone  ditaklukkan oleh Gowa beberapa kali yakni  pada tahun 1611, 1640  dan  akhirnya  di 1644. Pada kesempatan terakhir itu Bone kehilangan kemerdekaannya dan menjadi jajahan  kerajaan Gowa - Makassar.  Kerajaan Bone butuh waktu dua puluh tahun merebut  kembali kemerdekaannya di bawah Pimpinan 'Arung Palakka'  tahun 1660 . Ia mengembangkan Bugis menjadi kekuatan maritim besar yang bersekutu dengan Belanda (Persekutuan  dalam  arti Strategi Perang Arung Palakka)  dan mendominasi pulau-pulau selama hampir satu abad.
Setelah penaklukan Gowa-Makasar oleh Belanda pada 1669 dengan bantuan Arung Palakka, maka Belanda  dengan terpaksa  memberinya kerajaan  Bone  sebagai  sebagai balasannya . Ini diberikan  oleh GG Joan Maetsuyker pada  tanggal 28 Februari 1670. Kemudian  kerajaan Bone  abad berikutnya menjadi kekuatan cukup besar di pulau Celebes  dan  memperluas lingkup pengaruhnya atas kerajaan-kerajaan tetangga
Setelah pendudukan Inggris di awal abad ke- 19,  Belanda menguatkan diri  dengan  ekspedisi militer pada tahun 1824 . Kemudian dilanjutkan ekspedisi militernya  pada tahun 1825, 1859,  dan 1860.   Ketika Belanda mengirim kekuatan militernya  untuk menyerang Bone di tahun 1905, Arumpone lari ke hutan dengan pembesar dan prajurit, dan  bergerilya .  Namun kemudian ia  berhasil ditangkap kemudian dibuang ke Jawa. Sebuah  Dewan bangsawan diberikan Bone  setelah 1905, tapi pemerintahan sendiri dipulihkan pada 1931.
Lambang Negara
 
Tentang lambang negara bagian Bone  memang relative  banyak. Dijelaskan  bahwa setelah ekspedisi militer Belanda ke Bone di pertengahan abad ke-19. Sebuah laporan dari ekspedisi ini ditulis oleh Perelaer, MTH: De Bonische expeditiรซn: Krijgsgebeurtenissen op Celebes tahun 1859 en 1860. Leiden 1872.  Perbendaharaan dijelaskan dalam artikel "Inventaris van de Thans aanwezige Rijksornamenten van Boni" (Inventarisasi harta  nasional  Bone ), juga dikutip oleh Perelaer. Bahwa Harta karun terdiri dari pedang dan Keris, bendera dan beberapa potongan menarik lainnya dianggap sebagai pusaka atau benda melegitimasi otoritas penguasa. 
Standar Nasional 
Kasitangnga : Standar Nasional Bone, 1755.
Bagian paling mencolok dari harta karun itu adalah  merupakan bendera Standar Nasional yang merupakan lambang mencakup semua Negara  bagian Bone. Tahun 1775
Standar Nasional , bernama  Kasitanganga  atau  Lima-si-attangรฉ   telah disampaikan kepada Raja Bone pada tanggal 16 Agustus 1755, yang mengatakan kepada Raja Abdul Razzaq Jalal (1749 - '75). Ini menunjukkan:dan menjelaskan, bahwa :

1. Sebuah matahari yang cerah, bulan sabit dan bintang tiga.
2. Para nol dari Kamar Middelburg Perserikatan East India Company (VOC) dan segel Raja Abdul Razzaq Jalal.
3. Sebuah kapal berlayar, menjadi lambang VOC.
4. Sebuah Prestasi:
Emblem: Sebuah lapisan baja dan helm Atau, dan piala yang terdiri dari biru dan bendera merah per chevron, dan beberapa senjata: tombak senapan, pedang, terompet, drum dan sejenisnya   serta dua meriam mengarah keluar, dan barang-barang mereka, dan perisai bundar, semua di atas tanah berumput.
Mahkota : Mahkota Kerajaan Bone Ini menunjukkan kejayaan dan kemakmuran  Bone.
5. Dua tangan menggenggam, mengeluarkan dari dua awan.
6. Motto :
a.  ZOLANG DE EN ZON Maan SCHEYNE:   Zal DE E: COMP E MET Boni VAST VEREENIGT BLEYVE yang artinya :  Salagi ADA Matahari Dan Boelan bฤ•rtjahaja di Langit dฤ•mikian-Lagi Kompeni Dan Bone  Akan langgar bฤ•rkฤ•kalan jang tiada bฤ•rtjฤ•re dalam naskah arab (Selama matahari dan bulan akan bersinar, VOC dan Bone akan tetap kuat bersatu).
b. DOCA ONSE KRAGTEN BLEYVEN DE HANDEN VAST dan: Dari Kami ampoenja kakoewasja-an  Akan Tangan Suami tienggal berpฤ•gangan  dalam naskah arab (Dengan Pasukan kami Tangan kami tetap Mantap)
SAMPARAJAE
Samparaja adalah  berwarna cahaya biru sutra di tengahnya terdapat  jangkar dalam bordir dihiasi. Memiliki bola dalam bentuk bunga berdaun empat, dua dari daun emas, dan dua lainnya dari besi. Kedua daun ini disebut Brani yang berarti "berani" dan berubah menjadi musuh dalam pertempuran. Bola yang dihiasi dengan rambut seorang pangeran Seram yang dibunuh.
Jangkar  mengacu pada kekuatan maritim atau angkatan laut dari kerajaan Bone 
     BENDERA NEGARA BAGIAN BONE
Cellae ri-Atau dan Cellae ri-Abeo

Bendera  orang-orang Bone terbagi dalam tiga kelompok yaitu :
  • Kelompok pertama, yang dikumpulkan di sekitar Waromporong terdiri dari orang-orang dari Madjang, Matowanging, Bukaka, Kawarrang, dan Maloi. Waromporong dilakukan oleh Matuwa dari Majang.
  • Kelompok kedua, yang dikumpulkan di sekitar Tjallae-ri-atau, terdiri dari orang-orang dari Patjieng, Tanete, Lemo Lemo, Masalle, Matjege, dan Belawa. Tjallae-ri-atau ini dilakukan oleh Kadjao Tjiu.
  • Kelompok ketiga, yang dikumpulkan di sekitar Tjallae-ri-abeo, terdiri dari orang-orang dari Udjung, Ponljeng, Ta, Katumping, Panda Tjanga en Madello. Tjallae-ri-abeo ini dilakukan oleh Kadjao Arasang.
Setelah Waromporong hilang ia digantikan oleh Samparaja yang merupakan lambang kerajaan
 
Tjallae-ri-Atau dan atau Tjellae-ri-Abeo berwarna merah, dengan yang terbuat dari beludru hijau. Didihiasi dengan rambut orang-orang dari Seram tewas dalam perang.
Kedua bendera tersebut di atas, dibuat pada pemerintahan dari Lasaliwu Karampeluwa, raja Bone ke-3. Pada saat digunakan harus ditampilkan di kedua sisi Waromporong, bendera Manurung-ri Matajang (1350-1366). Kemudian mereka harus ditampilkan di kedua sisi Samparadjae tersebut.
   LAMANGOTONG 
Panji Lamangotong

The Royal / Panji Lamangotong adalah kain putih dengan border dihias dan breadths hitam sempit di ujung tiang-dan sisi atas. Tersebut terhubung dengan tombak. Namanya berarti "ular-ular yang menyerang" (musuh).
Sebuah legenda mengatakan:
"Arung Palakka sedang berperang dengan Wajo dan telah kehilangan Samparaja ketika ia memiliki ide untuk menampilkan saputangan, berteriak bahwa Samparaja bukan hanya panji Bone. Melihat hal ini orang-orang dari Bone melanjutkan serangan mereka dengan semangat sehingga mereka merebut kembali panji mereka. "
 STEMPEL KERAJAAN BONE
Stempel Kerajaan Bone

Tiga perak segel tergantung dari rantai perak kecil. yang di sebelah kiri menyandang nama To-ri-Sompae Arung Palakka. Di satu di tengah adalah suatu prestasi yang mungkin merupakan prestasi pertama pemerintah kerajaan. Ini menunjukkan seorang pria tiga perempat berdiri menjaga ular di tangannya. Pada perisai, didukung oleh dua singa atau harimau, adalah mahkota tujuh daun yang merupakan mahkota baronet.
Pada ketiga adalah sosok yang mungkin delapan berdaun teratai-bunga, dibebankan dengan sepasang kompas dan sebuah lingkaran.   
LAMBANG GARUDA 
Bendera Kerajaan Bone

Banner Garuda merupakan kain sutra putih diisi dengan Garuda dengan dua ular di tangannya dan berdiri di ular lain. Di sudut empat harimau.
Bendera ini adalah mitra atau pasangan  dari Kasitanganga.
Pada waktu Kasitanganga sebagai Standar Nasional, maka Banner Garuda adalah sebagai Bendera Negara karena menampilkan pesawat Garuda yaitu kendaraan penguasa dan simbol negara dalam simbolisme politik Buddha.
Emblem: Garuda menginjak ular yang tepat.
Pendukung: (Empat) harimau.)
Harimau mungkin lambang prajurit peringkat tertinggi Bone, sehingga membuat pencapaian: ". Pemerintah dengan rahmat komandan Agung"
PERISAI / TAMENG
Perisai  / Tameng
  Perisai perak dengan medali emas di tengah, biasanya ditampilkan dengan keris kecil. Perisai ini digunakan prajurit kerajaan Bone  pada waktu  sedang perang 

Senjata Kerajaan 

Keris La-Makkawa

Ini keris, sebuah pusaka penting dari Kesultanan Bone, memiliki selubung khas Sulawesi dengan ujung datar, pendek (selubung terluar) dari kawat emas dibungkus dikepang dengan  permata. Keris La-Makkawa adalah milik Arung Palakka. Menurut  legenda, bahwa keris La-Makkawa tak bisa disentuh oleh lawan apalagi merebutnya  akan tetapi siapapun  lawan yang terkena olehnya akan mengalami maut dan kematian. sehingga dinamai La-Makkawa ( artinya tidak bias disentuh oleh lawan). Keris La-Makkawa masih tersimpan dengan baik di museum Arajangnge Bone dan dibersihkan setiap setahun sekali pada saat peringatan hari jadi Bone



Pedang La-Teariduni

Pedang La-Teariduni adalah berselubung warna perak dan emas
Menurut Legenda : La-teariduni milik seorang pangeran bernama Arung Alitta. Beliau  memutuskan bahwa pedang miliknya  harus dikuburkan bersamanya pada saat kematiannya.
Tentu saja keluarganya melakukan seperti yang beliau  inginkan Pada saat kematiannya Pedang La-Teariduni ikut dimasukkan dalam duni etapi hari berikutnya pedang La-Teariduni tidak ada di dalam duni melainkan didapati berbaring di atas  makamnya.
Para kerabat, untuk mematuhi perintah-Nya  pedang La-Teariduni dikuburkan  kedua kalinya tetapi beberapa hari kemudian lagi-lagi ditemukan di atas makam sang pangeran.
Akhirnya keluarga kerajaan  mengatakan bahwa itu adalah keinginan Tuhan bahwa pedang tidak harus dikubur tetapi harus dipertahankan selama-lamanya sebagai peninggalan kerajaan.Pedang La-Teariduni setara dengan pedang Eropah seperti Joyeuze Perancis, Szerbice dari Jerman. Pedang La-Teariduni masih tersimpan dengan baik di museum Arajangnge Bone dan dibersihkan setiap setahun sekali pada saat peringatan hari jadi Bone

 SumberPerpustakaan Universitas Leiden, Belanda.

Menelusuri Budaya Adat SIRAWU' SULO di Desa Pongka



BAB 1
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

    Propinsi Sulawesi Selatan memiliki aneka ragam kebudayaan dan keadaan geografisnya sangat bervariasi. Ada dataran rendah dan ada juga gunung yang tinggi, tanah yang gersang dibagian selatan, pantai yang panjang dengan desa-desa nelayan, gua-gua stalaknit dan stalaktit, danau dan air terjun, serta gunung berapi yang tidak aktif. Daerah ini termasuk salah satu wilayah yang penduduknya paling padat di luar pulau Jawa dan Bali.
    Di Sulawesi Selatan terdapat tiga suku bangsa yang besar, yaitu: Bugis, Makassar, Toraja dan dan sebagian kecil suku bangsa lain. Suku Bugis dan Makassar beragama Islam dan tinggal di sepanjang pantai bagian selatan, terkenal dengan kerajinan tangan dan jiwa pelautnya. Suku Toraja yang beragama Kristen tinggal di bagian utara dan tetap mempertahankan kebudayaannya yang khas.
    Kabupaten Bone merupakan salah satu Kabupaten di pesisir timur Sulawesi Selatan Yang Terletak antara 04013’ – 5006 Lintang Selatan dan antara 119042’ - 120030’ Bujur Timur dan mempunyai garis pantai sepanjang 138 Km dari arah selatan ke arah utara serta berjarak ± 174 Km dari Kota Makassar Ibukota provinsi Sulawesi Selatan.
    Untuk mencapai desa Pongka yang berjarak 27 km dari kota Watampone tidak terlalu sulit karena bisa diakses dengan melalui darat menggunakan kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat walaupun  Infrastruktur fisik menuju ke sana masih terdapat jalan yang bolong-bolong yang perlu mendapat perhatian Pemda Bone.
    Suku Bugis adalah suku terbesar yang menempati Sulawesi Selatan. Masyarakat Bugis ini kemudian mengembangkan kebudayaan, bahasa, aksara, pemerintahan mereka sendiri. Beberapa kerajaan Bugis klasik dan besar antara lain Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Suppa dan Sawitto (Kabupaten Pinrang), Sidenreng dan Rappang. Meski tersebar dan membentuk etnik Bugis, tapi proses pernikahan menyebabkan adanya pertalian darah dengan Makassar dan Mandar. Saat ini orang Bugis tersebar dalam beberapa Kabupaten yaitu Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Sidrap, Pinrang, Sinjai, Barru. Daerah peralihan antara Bugis dengan Makassar adalah Bulukumba, sinjai, Maros, Pangkajene Kepulauan. Daerah peralihan Bugis dengan Mandar adalah Kabupaten Polmas dan Pinrang.
    Bone merupakan daerah terluas di bandingkan daerah bugis lainnya. Dalam sejarahnya wilayah ini Berjaya di abad ke-17 pada masa pemerintahan Latenritatta Arung Palakka menguasai seluruh daerah Bugis-Makassar. Tentunya daerah ini juga mempunyai kebudayaan yang unik salah satunya adalah tradisi rakyat atau pesta rakyat Sirawu' Sulo.
Pesta rakyat Sirawu' sulo merupakan tradisi budaya leluhur masyarakat desa Pongka, Kecamatan Tellu Siattinge kabupaten Bone, yang telah ada sejak terbentuknya Desa Pongka itu sendiri, sehingga sangat erat kaitannya dengan asal usul ditemukannya sebuah perkampungan yang memiliki tradisi unik tersebut.
    Pesta rakyat Sirawu' Sulo yang tidak dapat dipisahkan dengan sejarah keberadaan desa Pongka tersebut banyak menarik perhatian masyarakat, baik itu masyarakat luar maupun masyarakat yang ada dalam kabupaten Bone. Keunikan pesta rakyat yang menggunakan api sebagai media atraksinya tersebut dapat dijadikan salah satu atraksi pariwisata budaya yang dapat menjadi salah satu faktor untuk menarik dan mendatangkan wisatawan dari berbagai daerah, baik itu dalam maupun luar negeri, seperti halnya atraksi budaya yang ada di Toraja yang banyak menarik perhatian wisatawan mancanegara.
    Melihat salah satu faktor yang dapat menarik wisatawan untuk menyaksikan atraksi tersebut, maka kami tertarik melakukan penelusuran untuk mengetahui apresiasi wisatawan, latar belakang motivasi, dan minat wisatawan terhadap atraksi tersebut, serta dampaknya terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat.

B. IDENTIFIKASI PENELUSURAN

    Adapun rumusan masalah dalam makalah ini ialah :
a. Bagaimana sejarah Pariwisata Budaya di Daerah Pongka ?
b. Bagaimana Profile masyarakat di Daerah Pongka ?
c. Bagaimana adat dan kebudayaan masyarakat Daerah Pongka ?
d. Bagaimana profil reponden dari event “Sirawu' Sulo” ?
e. Bagaimana kesan wisatawan terhadap atraksi budaya “Sirawu' Sulo” ?
f.  Bagaimana kesan wisatawan terhadap atraksi Sirawu' Sulo sebagai salah satu atraksi budaya yang ada di Sulawesi Selatan?
g. Bagaimana latar belakang motivasi dan minat wisatawan terhadap penyelenggaraan atraksi Sirawu' Sulo?
h. Bagaimana dampak Event Sirawu Sulo terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat.

C. KERANGKA PIKIR PENELUSURAN

    Adapun kerangka berpikir penelitian yang kami lakukan terdapat dalam tabel (terlampir 1 dalam daftar tabel). Berbagai fungsi seni pertunjukan yang dapat dikenali, baik lewat data masa lalu maupun data etnografik masa kini, meliputi fungsi-fumhsi religius, peneguhan integrasi sosial, edukatif, dan hiburan. Yang berubah dari zaman ke zaman adalah penekanan pada fungsi-fungsi tertentu maupun bentuk-bentuk pernyataannya. Kadang-kadang muncul fungsi baru yang tidak dikenal , atau dikenal secara implisit saja. (Edy Sedyawati, 2007 :293)
    Contoh dari pemikiran tersebut berkaitan dengan atraksi Sirawu' Sulo yang memunculkan fungsi baru yang memang hanya dikenal secara implisit yaitu sebagai kesempatan untuk berkumpul bersama keluarga yang telah merantau keluar daerah Pongka dan tempat ajang mencari pasangan.

D. HIPOTESIS PENELUSURAN

    Berdasarkan kerangka pemikiran di atas, dapat dikemukakan penjelasan sementara terhadap gejala dan perilaku tertentu yang terjadi dan merupakan masalah dalam penelitian. Hipotesis disusun sebagai gambaran peneliti tentang interaksi yang terjadi antara variabel penelitian sebagai suatu proses untuk menghasilkan kesimpulan. Hipotesis yang disusun dalam penelitian ini adalah:
Hipotesis 1:
Ho: Tidak terdapat hubungan faktor antara kesan wisatawan dengan atraksi sirawu' sulo
Ha: Terdapat hubungan faktor antara kesan wisatawan dengan atraksi sirawu' sulo
Hipotesis 2:
Ho: Tidak terdapat latar belakang motivasi dan minat wisatawan dengan penyelenggaraan atraksi Sirawu' Sulo?
Ha: Terdapat latar belakang motivasi dan minat wisatawan dengan penyelenggaraan atraksi Sirawu' Sulo
Hipotesis 3:
Ho: Tidak terdapat dampak atraksi Sirawu' Sulo terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat
Ha: Terdapat dampak atraksi Sirawu' Sulo terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat.

E. METODE PENELUSURAN

    Metode penelusuran ini secara teknis menggunakan metode survei dan penelitian deskriptif. Selain itu, kami juga menggunakan metode observasi dan wawancara. Dalam metode ini, teknik pengumpulan data yang kami gunakan ialah melalui cara observasi langsung dan wawancara kepada para narasumber secara langsung. Ketika kami berada di Daerah Pongka maka kami sekelompok mengumpulkan data secara bersama-sama dan dikumpulkan lalu kami makalahkan. (Drs. Wardiyanta, M.Hum., 2006:29)

    Penelitian Deskriptif (Descriptive Research) adalah penelitian yang bertujuan membuat deskripsi atas suatu fenomena sosial/alam secara sistematis, faktual dan akurat. Di samping itu, penelitian ini sering juga digunakan untuk menguji suatu hipotesis atau untuk menjawab pertanyaan mengenai berbagai peristiwa yang sedang terjadi di masyarakat. (Drs. Wardiyanta, M.Hum., 2006:5).
    Instrumen atau alat yang digunakan untuk penelusuran ini adalah kuesioner terbuka. Kuesioner merupakan panduan wawancara. Informasi yang disampaikan berupa uraian deskriptif dari sumber informasi.
    Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara untuk mengetahui kesan, motivasi, minat dan dampak sosial ekonomi masyarakat Pongka terhadap penyelenggaraan atraksi Sirawu' Sulo.
BAB  II
GAMBARAN UMUM OBJEK PENELUSURAN


    Pesta rakyat warisan leluhur masyarakat Pongka yang disebut dengan Sirawu' Sulo dilaksanakan setelah ditetapkannya waktu pelaksanaan yang disepakati oleh masyarakat Pongka yang dimulai berdasarkan petunjuk Sanro (Ketua Adat). Sebelum kegiatan dilaksanakan terlebih dahulu ada rangkaian persiapan berupa pembentukan panitia yang akan mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan peyelenggaraan atraksi tersebut. Kemudian digelar rangkaian acara pembuka yang disebut dengan Mabbepa Pitu (membuat kue yang jumlahnya tujuh) prosesi ini adalah syarat yang harus dilaksanakan oleh setiap masyarakat desa Pongka.
    Setelah acara Mabbepa pitu diselenggarakan, dimulailah pertandingan sepak bola yang diikuti oleh berbagai daerah seperti tetangga kampung maupun daerah lainnya. Pertandingan ini berlangsung selama beberapa hari, tergantung banyaknya peserta yang ikut berpartisipasi.
    Apabila rangkain kegiatan tersebut telah selesai, saatnya digelar acara puncak Sirawu Sulo yang dibuka dengan sebuah prosesi atau ritual yaitu Mampule Manu' (Mengarak ayam) dari rumah Sanro sampai pada lapangan tempat pertunjukan atraksi Sirawu' Sulo. Semua rangkaian prosesi tersebut memiliki makna dan tujuan pelaksanaan yang berbeda namun semuanya terkait satu sama lain dan terangkai dalam satu acara yaitu Pesta rakyat Sirawu' Sulo.

A. SEJARAH

    Sejarah Desa Pongka yang di diami oleh masyarakat Desa Pongka, Kecamatan Tellu Siattingnge, Kabupaten Bone, menurut cerita penduduk asli setempat asal-usulnya bukan berasal dari kerajaan Bone, melainkan cikal bakalnya berasal dari kerajaan Baringeng di Kabupaten Soppeng.
    Ada dua anak dari Raja Kabupaten Soppeng yang memiliki watak yang berbeda, yaitu kurang baik dan baik. Perilaku anaknya yang kurang baik bersikap semena-mena kepada rakyat dan suka menyetubuhi gadis di daerahnya. Melihat kelakuan saudaranya tersebut, maka Petta Mabbaranie pergi meninggalkan Soppeng bersama dua orang penglima perang yaitu Petta Makkulli Dajangnge, dengan membawa gendang ajaib yang dijadikan pedoman untuk menentukan arah dan tempat yang akan dituju, sekaligus menjadi alat untuk menghibur dan menghilangkan lelah para rombongan dalam petualangan dan pengembaraannya
    Petta Mabbaranie berjalan kearah timur lalu singgah di Desa Langare dan setiap persinggahan yang yang dilalui gendang ajaib tersebut ditabuh, dan ternyata bunyi yang dikeluarkan gendang tersebut berbeda-beda disetiap tempat tempat persinggahan yang dilalui. Disuatu tempat persinggahan tiba-tiba gendang tersebut berbunyi nyaring (macenno) dan untuk mengenang peristiwa tersebut, maka mereka sepakat bahwa tempat peristirahatan itu diberi nama ‘Lacenno’ (sekarang kampung Lacenno Desa Mario Kecamatan Dua Boccoe kabupaten Bone
    Petta Mabbaranie dan rombongan melanjutkan perjalannnya, dipersinggahan selanjutnya bunyi gendang tersebut meriuh atau ramai riuh bergerumuh (Mario - dalam bahasa Bugis) sehingga kampung tersebut diberi nama ‘Mario’. Begitu seterusnya, sampai akhirnya tibalah rombongan tersebut disuatu tempat persinggahan, gendang ditabuh dan mengeluarkan bunyi yang berbeda dan membawa suasana hati para rombongan menjadi tenang dan bahagia. Gendang itu berbunyi kang…kang…kang… yang berarti ‘engka’ dalam bahasa Bugis artinya ada. Sedangkan kata ‘pong’ diawal kata Pongka berarti akar, dasar dan batang. Jadi kata Pongka berarti dasar kehidupan.
    Hal ini di sebabkan karena di Desa Pongka yang terkenal kering, namun tanaman tetap dapat tumbuh di Desa Pongka dan isyarat yang diberikan gendang ajaib tersebut, telah memberi keyakinan kepada segenap rombongan bahwa ditempat itu ada dasar kehidupan yang akan menjanjikan harapan dimasa depan yang penuh dengan kedamaian dan ketentraman, sehingga mereka sepakat untuk menetap di tempat itu dan merekapun memberinya nama kampung ‘Pongka’ seperti sekarang ini.
    Sejak saat itu, maka Petta Mabbaranie dan rombongannya sepakat untuk melaksanakan sumpah yang ditandai dengan melempar sebutir telur ke arah timur dan arah barat di perbatasan Desa Pongka dan Desa Ulo kecamatan Tellu Siattinge, maka sejak itulah dikenal adanya pesta adat dan tradisi Sirawu' Sulo di Desa Pongka.
    Tradisi unik Sirawu' Sulo yang banyak menarik perhatian warga bukan hanya dari tetangga kampung setempat, tapi juga dari daerah lain terutama di daerah perantauan warga Pongka, ini dilaksanakan secara turun temurun oleh warga Pongka dalam bentuk pesta rakyat, yang rangkaian kegiatannya biasanya berlangsung sekitar setengah sampai satu bulan lamanya, namun acara puncaknya hanya berlangsung selama tiga malam berturut-turut.
    Boleh jadi, kegiatan Sirawu' Sulo ini, pertama kali dilaksanakan oleh rombongan Petta Makkuli Dajangnge dan Petta Mabbaranie sebagai bentuk rasa syukur mereka setelah menemukan daerah baru yakni Pongka sebagai daerah yang menjanjikan untuk dijadikan sebagai tempat tinggal penghidupan bagi anak cucu mereka.
    Hanya saja, menurut peraturan warga setempat, pelaksanaan kegiatan Sirawu' Sulo ini secara turun temurun telah mengalami perubahan dan pergeseran, seiring dengan pengaruh perkembangan dinamisasi zaman.
    Awalnya, kegiatan Sirawu' Sulo ini dilaksanakan sekitar lima tahun sekali, namun demikian, meskipun belum cukup lima tahun tapi ketika sudah ada petunjuk atau bisikan yang mendatangi Sanro maka kegiatan ini sudah harus dilaksanakan karena warga tidak boleh melanggar perintah penguasa kampung sebab biasa mendatangkan bencana jika tidak dilaksanakan, menurut cerita masyarakat setempat, bencana yang terjadi biasanya akan ada warga yang sakit dan meninggal dunia, kemudian warga lain akan bernasib sama sehingga terjadi semacam peristiwa meninggal dunia yang berturut-turut.
    Pada saat sekarang ini kegiatan Sirawu' Sulo sudah ditetapkan waktunya sekali dalam tiga tahun, bentuk asli dari rangkaian Sirawu' Sulo ini, juga telah banyak mengalami perubahan dan rupanya tidak mampu dipertahankan lagi. Beberapa permainan rakyat seperti yang dulu dilaksanakan sebagai rangkaian kegiatan Sirawu' Sulo diganti dengan kegiatan lain seperti pertandingan sepak bola.
    Masyarakat yang mendiami Desa Pongka, Kecamatan Tellu Siattingnge, Kabupaten Bone, menurut cerita masyarakat setempat asal-usulnya bukanlah berasal dari kerajaan Bone, melainkan cikal bakalnya berasal dari kerajaan Baringeng di Soppeng.
    Menurut cerita, seorang penguasa kerajaan Soppeng pada waktu itu selalu bertindak secara sewenang-wenang dengan melakukan penindasan, pemerkosaan, dan hal-hal yang bertentangan dengan masyarakat, oleh karena itu sebagian rakyat pindah dan pergi meninggalkan Soppeng bersama dua orang penglima perang yaitu Petta Makkulli Dajangnge dan rekannya Petta Mabbaranie, dengan membawa gendang ajaib yang dijadikan pedoman untuk menentukan arah dan tempat yang akan dituju, sekaligus menjadi alat untuk menghibur dan menghilangkan lelah para rombongan dalam petualangan dan pengembaraannya.
    Disetiap persinggahan yang dilalui gendang ajaib tersebut ditabuh, dan ternyata bunyi yang dikeluarkan gendang tersebut berbeda-beda disetiap tempat persinggahan yang dilalui. Disuatu tempat persinggahan tiba-tiba gendang tersebut berbunyi nyaring (macenno - dalam bahasa Bugis) dan untuk mengenang peristiwa tersebut, maka mereka sepakat bahwa tempat peristirahatan itu diberi nama ‘Lacenno’ (sekarang kampung Lacenno Desa Mario Kecamatan Dua Boccoe).
    Kemudian rombongan melanjutkan perjalannnya, dipersinggahan selanjutnya bunyi gendang tersebut meriuh atau ramai riuh bergerumuh (Mario) sehingga kampung tersebut diberi nama “Mario” Begitu seterusnya, sampai akhirnya tibalah rombongan tersebut disuatu tempat persinggahan, gendang ditabuh dan mengeluarkan bunyi yang berbeda dan membawa suasana hati para rombongan menjadi tenang dan bahagia. Gendang itu berbunyi kang…kang…kang… yang berarti ‘engka’ dalam bahasa Bugis artinya ada. Sedangkan kata ‘pong’ diawal kata Pongka berarti akar, dasar dan batang. Jadi kata Pongka berarti dasar kehidupan.
    Ternyata isyarat yang diberikan gendang ajaib tersebut, telah memberi keyakinan kepada segenap rombongan bahwa ditempat itu ada dasar kehidupan yang akan menjanjikan harapan dimasa depan yang penuh dengan kedamaian dan ketentraman, sehingga mereka sepakat untuk menetap di tempat itu dan merekapun memberinya nama kampung ‘Pongka’.
    Setelah rombongan Petta Makkuli Dajangnge dan Petta Mabbaranie sepakat untuk tinggal di Desa Pongka, mereka melaksanakan sumpah yang ditandai dengan melempar sebutir telur ke arah timur dan ke arah barat di perbatasan Desa Pongka dan Desa Ulo, maka sejak itulah dikenal adanya pesta adat dan tradisi Sirawu Sulo di Desa Pongka.
    Boleh jadi, kegiatan Sirawu Sulo ini, pertama kali dilaksanakan oleh rombongan Petta Makkuli Dajangnge dan Petta Mabbaranie sebagai bentuk rasa syukur mereka setelah menemukan daerah baru yakni Pongka sebagai daerah yang menjanjikan untuk dijadikan sebagai tempat tinggal penghidupan bagi anak cucu mereka.

B. PROFIL KEHIDUPAN MASYARAKAT PONGKA

    Masyarakat Pongka merupakan masyarakat yang ramah, kompak dan egaliter, serta memiliki prinsip sipammase-mase (saling kasih mengasihi), terbukti dengan pelaksanaan kegiatan pesta rakyat Sirawu' Sulo yang tetap mereka gelar dari dulu hingga kini, selain itu dapat juga kita lihat berdasarkan sikap egaliter mereka yaitu keseragaman cat rumah mereka yang berwarna kuning dan hijau. Bukan hanya dari kedua sudut pandang tersebut, tetapi kekompakan mereka dapat kita jumpai dalam kerjasama mereka dalam mengelola hasil pertanian atau perkebunan mereka (mata pencaharian), contohnya apabila kita berada di daerah tersebut, maka tidak jarang kita akan menjumpai beberapa warga yang berkumpul di bawah salah satu rumah panggung masyarakat bugis tersebut yang sedang bekerja sama saling tolong menolong mengolah hasil pertanian atau perkebunan mereka, seperti tembakau, kapas, jagung, dan sebagainya.
    Kebersamaan serta kekeluargaan yang ada diantara mereka lebih kental dengan tidak adanya strata sosial atau kelas-kelas sosial dalam kehiduapan masyarakat mereka yang menjadi pemisah atau batas diantara keakraban mereka. Bagi mereka tidak ada kata Arung maupun Raja yang harus dihormati seperti di daerah lainnya, mereka semua sama sebagai masyarakat Pongka yang menjalani hidup dengan Sipammase-mase.

C. Adat Dan Kebudayaan

    Dalam penelusuran kami, di Pongka tak banyak yang kami dapatkan informasi tentang hal- hal yang berkaitan dengan kesenian, karena pada umumnya pada saat mereka melaksanakan pesta adat ini hanya mengkhusus pada prosesi dan ritualnya saja meski kuliner, masyarakat dan bahasa ikut tergabung tetapi inti dari pesta adat ini yaitu ketika masyarakat Pongka melakukan prosesi dan ritualnya. Kesenian dalam pesta adat ini merupakan unsur  yang terpenting sebenarnya namun hasil penelusuran yang kami dapat banyak informan yang kami wawancarai mengatakan bahwa kesenian hanya untuk melengkapi pesta adat ini agar kelihatan ramai namun dutinjau dari segi jenis- jenis seni kami mendapatkan data mentah dari setiap informan yang memberikan informasi kurang jelas, banyak persepsi dari mereka sehingga apa yang di ucapkan dan diketahui dari mereka.
Kemudian itulah yang kami tulis dalam bagian-bagian atau jenis-jenis seni yang sudah kami susun. Untuk itu mohon maaf jika banyak kekurangan dan kesalahan dalam penulisan penelusuran kami ini. Kami masih perlu belajar dan terus belajar sebagai anak yang berbudaya dan mencintai budaya sendiri.
    Berikut di bawah ini hasil penelusuran kami dari kelompok Kesenian tentang pesta adat “Sirawu' Sulo” di Pongka kecamatan Tellu Siattinge kabupaten Bone. Adapun hal- hal yang terkait dengan kesenian serta jenis- jenis seni yang mencakup didalamnya :

SENI SASTRA
    Dalam seni sastra terdapat 2 hal yang membedakan yaitu bagaimana hal itu diungkapkan secara lisan dan bagaimana hal itu diungkapkan secara tulisan.
• Ditinjau dari segi lisan yaitu sebuah ucap atau tutur dari masyarakat Pongka untuk memulai acara ini dengan pembukaan dari ketua panitia, ia melisankan hal-hal yang akan dilaksanakan untuk kegiatan pesta adat ini.
• Ditinjau dari segi tulisan yaitu dari sumber yang berhasil kami dapatkan adanya” Literatur sejarah desa Pongka serta lontara- lontara kuno dalam hal ini mantra- mantra”. Tak jelas lontara apa yang digunakan tetapi menurut salah satu informan yang berhasil kami wawancarai mengatakan bahwa ia berbentuk mantra- mantra yang dibacakan pada saat pesta adat ini dan pada saat melakukan “makkalu atau berjalan menelusuri kampung” dan yang membacakannya adalah orang-orang tertentu saja dalam hal ini “Sanro atau Ketua Adat” dan teman-temanya.

SENI MUSIK
    Dalam seni music yang terkait di dalamnya yaitu lagu, teks, aransemen (tangga nada), instrument ( apakah alat pukul atau alat tiup yang di gunakan ). Dalam pesta dat ini alat musik yang di gunakan adalah alat musik perkusi atau pukul yang berjumlah 2 buah dibawa oleh 2 orang pemain dewasa sambil mmembawa “ulereng atau alat untuk menggotong” dan mengelilingi kampung, kemudian kostum yang digunakan bebas artinya tak ada ketentuan atau kostum adat yang wajib di gunakan oleh para perangkat pesta adat ini dan berusia 17 tahun ke atas dan harus penduduk asli desa Pongka.
    Tempat dilaksanaknnya permainan alat musik gendang ini di laksanakan di rumah Sanro atau Ketua Adat sekitar sejam dirangkaikan pembacaan mantra-mantra kemudian bersiap-siap mengunjungi beberapa titik yang dianggap penting diiringi sesekali suara musik gendang dan suara hentak-hentak dari pemain.

SENI TARI
    Dalam pesta adat ini yang terkait di dalamnya seperti :
a) Gerak, dalam hal ini gerak dari pemain itu bebas tidak ada gerak yang mengharuskan mereka mengikuti secara teratur.
b) Posisi, dalam hal ini posisi pemain juga tak diatur terserah dari mereka sesuka mereka di mana posisi yang nyaman disitulah mereka berjoget dengan bebas yang penting senang kata mereka.
c) Komposisi, dalam hal ini komposisi tak jelas dan tak karuan yang penting mereka bebas berekspresi.
d) Musik, dalam hal ini musik diiringi oleh penabuh gendang dan sesekali penabuh gendang ikut juga dalam tarian tersebut.
e) Kostum, dalam hal ini kostum yang dikenakan bebas
f) Merias diri sendiri tanpa harus memakai make-up mengalir secara sederhana dari raut wajah mereka
g) Properti, dalam hal ini properti yang di gunakan adalah alam sebagai aspek pendukung meriahnya acara ini juga suasana hutan yang menambah mistis dan sakralnya acara ini.
h) Tempat pertunjukan di rumah Sanro atau Ketua Adat  dan tempat-tempat yang dikunjungi memakai background alam sebagai aspek pendukung.
i) Tari yang di gunakan dalm pesta adat ini yaitu TARI PA’BBANUAE yang berfungsi sebagai penyambutan dan penghormatan arwah leluhur

SENI TEATER
    Seni teater dalam hal ini menurut persepsi kami yaitu permainan Sirawu' Sulo di lapangan dapat dijadikan seni teater, mengapa demikian karena mereka bermain dengan gerak, suara yang lantang untuk berteriak memanggil lawannya,menggunakan alat yaitu daun kelapa yang didikat dan dibakar dengan sulo dan melempa-lempar dengan nada yang mungkin diantara mereka ada yang emosi dan ada pula yang senang karena pesta adat ini diadakan lagi. Teter itu belajar memaknai kehidupan ini, belajar menjadi seorang yang kuat tterhadap aral lintang yang mmenghadang.
    Intinya pesta adat yang unik ini dapat dijadikan sebagai bentuk kesenian yang bisa bitampilkan sampai kepanggung atu malah diperkenalkan ke luar negri dengan teater Sirawu' Sulo misalnya. Sehingga dapat memperkaya khazanah budaya khususnya kabupaten Bone dan Sulawesi Selatan pada umumnya.

Potensi Lain , Adat, dan Kebudayaan Lain dari Desa Pongka

1. Pertanian
    Desa Pongka merupakan salah satu daerah pertanian yang subur, sehingga pada umumnya masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani. Hasil dri pertaniannya yang cukup terkenal berupa jagung, kapas, tembakau, kacang ijo, kelapa, coklat dan CB2 atau Canggoreng Bangkung-Bangkung  dan sebagainya.

2. Sosiologi
    Interaksi dalam kehidupan sosial masyarakat Pongka merupakan interaksi yang aktif karena penuh dengan rasa kekeluargaan, kebersamaan, dan kekompakan yang memiliki prinsip sipammase-mase atau saling kasih mengasihi. Hal tersebut terbukti dengan keseragaman cat rumah yang berwarna hijau putih dan suksesnya mereka mengolah lahan pertanian karena saling tolong menolong. Selain itu, hal tersebut dapat dilihat dari kerjasama mereka dalam melaksanakan pesta rakyat Sirawu' Sulo yang dilkasanakan setiap tiga tahun sekali.

3. Arkeologi
    Di Desa Pongka ada beberapa tempat yang ditemukan yang memiliki artefak, yaitu adanya makam, keramik, aggolacengeng dan saukang yang berada disebuah bukit.

4. Linguistik
    Bahasa yang dituturkan oleh masyarakat Desa Pongka merupakan bahasa bugis yang dialeknya mirip dengan dialek Soppeng namun juga mendapat pengaruh dari wilayah perkampungannya yaitu dialek Bone. Selain itu, yang menjadi ciri khas mereka adalah beberapa penyingkatan kata dimana penyingkatan kata tersebut berbeda dengan cara penyingkatan-penyingkatan kata dalam bahasa Bugis manapun.

ETNIK MERUPAKAN BAGIAN DARI KEBUDAYAAN

a. Etnik
    Di Desa Pongka memiliki banyak keunikan seperti :
1. Memiliki keseragaman warna rumah yaitu warna hijau dan kuning. Hal ini menurut cerita disebabkan karena keseragaman saja ketika bupati Bone pada beberapa tahun lalu mengikutkan Desa Pongka pada acara tahunan jadi untuk membedakannya dengan desa lainnya maka diseragamkan warna rumah.
2. Arah rumah mereka menghadap ke timur dan membelakangi Kabupaten Soppeng, hal ini dipengaruhi oleh sejarah Desa Pongka.

    Beberapa ciri khas masyarakat Pongka itu sendiri, salah satunya adalah rumah yang catnya serempak berwarna hijau dan kuning yang letaknya tidak boleh menghadap ke barat, hal tersebut berhubungan dengan sejarah Desa Pongka itu sendiri yaitu Petta Makkuli Dajangnge dan Petta Mabbaranie datang dari barat, sehingga mereka dilarang mendirikan rumah yang menghadap ke barat, bentuk rumah mereka masih mencirikan rumah khas orang bugis yaitu rumah panggung dimana setiap rumah memiliki sumur yang berada didekat tangga depan rumah, meski begitu saat ini sudah cukup banyak juga warga yang mendirikan rumah permanen.
    Ciri khas lainnya dari masyarakat Pongka yang terkenal kompak adalah tidak adanya strata sosial atau kelas-kelas sosial tertentu dalam masyarakat mereka yang biasanya jadi batas atau pemisah tersendiri ditempat lain. Menurut mereka warga Pongka adalah semuanya sama, tidak ada kata raja atau arung, semua saling menghormati termasuk ketua adat seperti sanro, saling kasih mengasihi.
    Ciri khas lainnya yang merupakan tutur masyarakat Pongkapun memiliki ciri khusus, dialek mereka mirip dengan dialek Soppeng yang memang merupakan cikal bakal adanya Desa Pongka yang bercampur dengan dialek Bone pengaruh letak wilayahnya sekarang, dan yang khasnya mereka selalu menggunakan kata dengan menyingkat kata-kata tersebut yang berbeda dengan dialek bugis lainnya, berbeda dengan Soppeng maupun Bone sebagai letak Desa Pongka itu sendiri.

b. Religius
    Makna religius masyarakat Pongka yang membedakannya dengan masyarakat lainnya ialah adanya sesajen di akkarajangeng. Namun,masyarakat yang mendiami desa Pongka seluruhnya beragama Islam. Meskipun demikian, masyarakat tersebut masih memiliki kepercayaan animisme ( menyembah benda-benda seperti pohon, dll ). Hal ini dibuktikan pada saat acara sebelum diadakannya kegiatan sirawu' sulo, pada saat “Mabbule Manu“, sanro dan rombongan yang mengarak ayam singgah pada suatu tempat di atas bukit, di bawah pohon besar dengan menaruh sesajen seperti telur, beras dan sebagainya, sambil membaca doa. Hal tersebut dapat dilihat bahwa masyarakat Pongka sepenuhnya menganut agama Islam, tetapi masih percaya pada kekuatan-kekuatan gaib lain.

e. Estetika
    Keadaan estetika cukup lumayan di Desa Pongka karena letaknya desa Pongka bisa dikatakan strategis karena diapit oleh tiga daerah yaitu Bone, Soppeng,dan Wajo. Selain letaknya yang strategis, keadaan lingkungan desa Pongka yang bersih dan rumah-rumah yang tersusun rapi dengan warna cat yang sama yang semakin menambah keindahan dan kecantikan desa tersebut. Keindahan desa Pongka akan sangat tampak jelas jika kita melihat dari atas bukit. Selain panorama tersebut pohon-pohon yang tersusun rapi yang menambah keasrian desa Pongka.

BAB  III
PEMBAHASAN PENELUSURAN

a. Presepsi Orang Pongka.
    Kebiasaan orang Pongka ketika mereka kedatangan tamu, mereka merasa sungkan jika tidak menyajikan sesuatu seperti makanan semacam nasi, kue atau minuman. Masyarakat Pongka juga mempunyai rasa solidaritas yang tinggi sesama manusia ketika mereka kedatangan tamu, masyarakat pongka juga memiliki sifat yang ramah kepada masyarakat yang datang untuk melihat upacara sirawu' sulo.

b. Pendidikan
    Latar belakang Pendidikan masyarakat Pongka tidak sampai pada pendidikan yang terbilang tinggi seperti Sarjana, kebanyakan masyarakat Pongka hanya tamatan Sekolah Dasar. Hal tersebut sekiranya wajar sama halnya dengan dsa-desa yang baru mekar lainnya. Adapun masyarakat Pongka yang melanjutkan pendidikannya keperguruan tinggi hanya sebagian saja, mungkin yang memiliki keuangan yang lebih atau mampu membayar pendidikanya.

a. Kesan Wisatawan terhadap atraksi budaya Sirawu' Sulo
    Adapun kesan para wisatawan terhadap atraksi budaya Sirau Sulo ialah :
1. Para wisatawan cukup tertarik terhadap acara ini karena dalam acara ini cukup menarik, baik dari pra acara hingga puncak acara “Sirawu' Sulo”.
2. Acara ini dimulai dengan pertandingan sepak bola dari beberapa kabupaten dengan beberapa  tim sepakbola yang kemudian di rangkaian acara makkalu hingga pesta rakyat “Sirawu Sulo” pada malam harinya.
BAB IV
LATAR BELAKANG MOTIVASI DAN MINAT WISATAWAN


    Berdasarkan hasil survei dan wawancara yang dilakukan, maka kami dapat mengambil kesimpulan beberapa latar belakang motivasi dan minat wisatawan :

1. Refreshing.
    Kebanyakan dari responden kami memiliki minat dan motivasi untuk mendatangi “Sirawu Sulo” demi mendapatkan hiburan dan kesenangan. Maklum saja hiburan dizaman sekarang ini juga telah mengandung nilai material sehingga untuk mendapatkan “hiburan murah meriah” maka kebanyakan dari mereka memilih hiburan seperti ini.

2. Experience
    Selain para wisatawan local dari masyarakat Pongka sendiri, kebanyakan juga terdapat wisatawan dari luar kota yang mengunjungi acara ini. Misalnya kami  yang datang mengunjungi Desa Pongka kecamatan tellu Sattinge Kabupaten Bone untuk mendapatkan pengalaman baru yang tentunya tidak kami dapatkan dari wisata-wisata di daerah lain.     Menurut kami, acara seperti ini tentunya sangat menarik dan dapat dijadikan sebuah acara dalam kalender kebudayaan kabupaten Bone maupun provinsi Sulawesi Selatan yang mampu meningkatkan devisa pendapatan masyarakat Pongka sendiri bahkan Provinsi secara umumnya sehingga mampu mendapatkan nilai budayanya juga.

3. Culture Knowledge
    Beberapa wisatawan mengunjungi Desa Pongka untuk mendapatkan pengetahuan kebudayaan. Selain itu, mahasiswa dapat menyusun skripsi yang mengangkat tema “Kebudayaan Sirawu' Sulo di Desa Pongka” untuk kemudian mampu dikembangkan sebagai “culture knowledge” dan dibagaikan kepada masyarakat umum.
BAB V
DAMPAK EVENT SIRAWU' SULO  TERHADAP KONDISI
SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT SETEMPAT


Adapun dampak event “Sirawu Sulo” terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat ialah :

1. Dampak Sosial
    Adapun dampak sosial yang dihasilkan oleh event “Sirawu Sulo” ini ialah :
a. Desa Pongka Kecamatan Tellu Sattinge Kabupaten Bone melalui acara ini mampu menghasilkan banyak wisatawan lokal (Masyarakat Pongka dan Bone) serta wisatawan interlokal (Masyarakat di luar Kab. Bone) sehingga Desa Pongka memiliki banyak pengunjung yang mampu melihat keindahan alam Desa Pongka seperti misalnya di bukit, serta keragaman budaya yang berada di Desa Pongka.

b. Melalui event “Sirawu' Sulo”,
   Beberapa anggota keluarga dari masyarakat Pongka yang dating berkunjung kembali ke Pongka karena dalam event ini juga merupakan ajang silahturahmi keluarga sehingga sejauh apapun sanak keluarga mereka akan berkumpul pada acara “Sirawu Sulo” seperti pada salah seorang responden yang kami wawancarai mengatakan bahwa dia jauh-jauh datang dari Malaysia cuma untuk berkunjung ke Pongka demi acara “Sirawu Sulo” dan demi rasa cintanya pada Desa kelahirannya. Namun, dia menambahkan bahwa tradisi ini juga berlangsung jika orang yang merantau tersebut memiliki materil yang menengah keatas karena tidak dipaksakan jika orang yang tidak mampu melaksanakannya. Sehingga tak tanggung-tanggung tahun 2012 ini sebanyak 80 ekor kuda dikorbankan untuk acara ini.

c. Dampak Ekonomi
    Adapun dampak ekonomi yang dihasilkan oleh event “Sirau Sulo” ini ialah :
1. Dampak ekonomi yang paling terlihat dari acara ini ialah banyaknya pedagang dadakan yang berada di sekitar lokasi puncak acara yaitu Lapangan Mabbaranie. Melalui pedagang dadakan ini dapat pula disimpulkan bahwa even “Sirawu Sulo” mampu meningkatkan pendapatan warga setempat yang menjadi pedagang dadakan.

2. Selain melalui dampak Sirawu Sulo pada pedagang dadakan, maka dampak ekonomi juga berpengaruh pada pedagang rumahan yang berada di Daerah Pongka sekitar acara “Sirawu Sulo”, misalnya untuk membeli snack ataupun makanan ringan lainnya.
BAB VI
PENUTUP

Kesimpulan
    Adapun kesimpulan dalam makalah ini ialah :
1. Apreasi kunjungan wisatawan terhadap penyelenggaraan acara “Sirawu Sulo” sangat baik meliputi kebanggaan, penghormatan serta adanya keinginan wisatawan untuk mengembangkan kebudayaan daerah “Sirau Sulo” pada Desa Pongka Kecamatan Tellu Sattinge Kabupaten Bone dan menjaga keunikan budaya tersebut.
2. Terdapat hubungan yang signifikan antara faktor atraksi masyarakat setempat dengan kesan wisatawan terhadap atraksi meliputi faktor ecotour dan ecolodge. Sedangkan sub faktor ecotour yang member pengaruh nyata terhadap kesan atraksi adalah penghormatan wisatawan terhadap budaya setempat. Adapun sub faktor ecolodge yang mencerminkan penempatan yang alami memberi pengaruh nyata terhadap kesan atraksi.
3. Faktor tempat dan pekerjaan responden memberikan pengaruh nyata terhadap kesan atraksi sedangkan faktor usia berpengaruh secara nyata terhadap ekspektasi acara “Sirawu Sulo”
4. Secara umum masyarakat setempat (local community dan host community) memperoleh manfaat langsung dari penyelenggaraan acara “Sirawu Sulo” ini, yaitu berupa manfaat ekonomi dan non ekonomi.

Saran-saran
    Adapun saran dari hasil penelusuran ini ialah :
1. Acara “Sirawu Sulo” ini sebaiknya dilaksanakan setiap tahunnya agar mampu memperat hubungan silahturahmi antara masyarakat yang satu dengan masyarakat lainnya selain itu untuk lebih memperkenalkan Desa Pongka kepada masyarakat pada umumnya.
2. Kami sangat mengharapkan jika ada acara kebudayaan seperti ini agar sekiranya mampu dicatat semua oleh Dinas Pariswisata dan Ekonomi Kreatif kabupaten Bone  untuk menjaga keunikan kebudayaan daerah kita masing-masing serta agar kebudayaan ini mampu di lestarikan oleh generasi muda. Tidak hanya event “Sirawu' Sulo” Desa Pongka saja akan tetapi seluruh kebudayaan daerah yang berada di Sulawesi Selatan.
3. Kami mengharapkan pemda Bone khususnya dinas terkait untuk menginventarisir kegiatan-kegiatan budaya di kabupaten Bone karena hingga saat ini belum dapatkan literatur budaya Bone yang dikeluarkan pemda Bone. Kecuali melalui internet situs Teluk Bone yang selama ini giat mengekspos seni.sejarah, budaya, dan wisata kabupaten Bone.

Sumber :
 www.telukbone.org
 Penelitian Mahasiswa PSGBD Unhas


Target Artikel

See All this category »
 
: TARGET TUNTAS INDONESIA
Copyright © 2013. Target Tuntas Online - All Rights Reserved / Email : targettuntasonline@yahoo.com
DESAIN TARGET TUNTAS
Spesialis Pimred
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...